Nana in Pasta

pasta0001Dalam banyak hal, saya menganggap diri saya sebagai orang yang sangat beruntung, bahkan barangkali termasuk orang-orang yang paling beruntung di dunia ini. Keberuntungan yang selalu membuat saya bersyukur dengan segala kerendahan hati karena saya sadar ini semua anugrah dari Sang Maha Pengasih Di Atas. Ingat saja dulu, sambil kita dipenuhi rasa euphoria saat diwisuda, pada umumnya di dalam kepala kita berputar-putar pertanyaan “what’s next? Cari kerja?”. Ketika itu saya sudah tak pusing lagi. Saya sudah ditawari jadi dosen bahkan sebelum saya sidang sarjana. Semenjak itu hingga kini, mungkin hingga akhir hayat saya nanti, saya mengerjakan apa yang saya sukai, astrofisika dan kosmologi, dan dibayar pula!  Intinya saya dibayar untuk belajar dan mengajar. Nyaman banget kan?

Pada aspek kehidupan yang lebih personal saya juga merasa amat beruntung, dan bersyukur, dianugrahi kesempatan bertemu dan berkenalan dekat dengan banyak orang, yang menemani saya dalam menopang hidup dalam satuan menit, jam, hari, bahkan tahun. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia; dari berbagai jenjang usia, ada yang baru gres lahir, ada yang menjelang menghembuskan nafas terakhir; dari berbagai profesi atau jalur pengabdian, maupun mereka yang masih dalam tahap persiapan; mereka datang dari berbagai kultur, agama, ras; mereka yang asetnya jauh negatif dan mereka yang tergolong dalam 1% terkaya di dunia; dari pemenang Hadiah Nobel hingga mereka yang melihat aksara seperti kita melihat bentuk awan; dari olahragawan super, pemain musik konser dunia, hingga ia yang hanya bisa menggerakkan jari telunjuknya; mereka yang hidup dan bekerja dalam kenyamanan dan kedamaian yang nyaris sempurna, hingga mereka yang keluar masuk medan perang atau berjuang mempertahankan nyawa-nyawa di daerah pengungsian yang dilanda kelaparan dan penyakit; dan lebih banyak lagi yang berada di antara titik-titik ekstrem itu. Mereka semua, dengan caranya masing-masing memperlihatkan kehidupan pada saya melalui jendela perspektif yang begitu beranekaragam; membantu saya menggaris-bawahi apa yang penting dalam hidup; mengajarkan pada saya apa yang diutamakan manusia dan apa yang menjadikan manusia utama di muka Bumi ini.

Saya bertekad untuk membagikan hal positif apapun yang saya peroleh.  Saya ingin orang lain minimal seberuntung saya. Tugas saya sebagai pengajar sepertinya otomatis membuka jalan bagi saya untuk itu, walaupun pada prakteknya tidak setrivial itu. Untuk dapat memberikan bantuan dengan hasil yang optimal, saya perlu mengidentifikasi apa yang persisnya perlu dibantu. Ini tidak selalu mudah karena satu akar masalah dapat memunculkan banyak symptom. Saya juga harus disadarkan mana yang merupakan mimpi-mimpi saya yang terlalu ambisius atau bahkan absurd, dan mana yang memang realistis untuk dapat diwujudkan. Saya khawatir tanpa sadar saya jatuh dalam perangkap egoisme walau sesungguhnya untuk cita-cita yang baik. Lagi-lagi proses belajar yang tiada habisnya. Saya juga temukan bahwa secara individual banyak yang seseorang dapat lakukan, namun secara berkelompok ada jauh lebih banyak yang dapat orang hasilkan. Untuk merancang roket yang dapat terbang keluar angkasa mungkin hanya memerlukan beberapa pemikir ulung. Tetapi untuk menjadikan design roket itu dapat sungguh terbang, perlu ratusan orang. Tak satupun dari mereka lebih penting daripada yang lain.

Dari sebegitu banyak cerita tentang keberuntungan yang saya peroleh, saya pilih saja dua untuk dapat saya ceritakan di sini. Yang pertama berhubungan dengan minat saya yang serius dalam hal pemahaman kita tentang sains dan agama. Pendeknya saya ingin tahu bagaimana manusia dapat menata iman dan rasionya dalam memahami eksistensi dirinya dalam alam raya ini. Awalnya seemua itu saya pelajari sendiri melalui bacaan dan sesekali diskusi dengan beberapa kolega. Suatu hari pada tahun 2003, dalam konferensi internasional  di Yogyakarta tentang dampak kolonialisasi pada kultur, saya diperkenalkan pada President Metanexus Institute. Institute ini bergerak dalam upaya mendorong dialog antara agama dan sains melalui berbagai program yang mereka danai. Beliau katakan bahwa sampai saat ini saya baru satu-satunya kosmolog serius yang beliau temukan di Asia Tenggara, jadi saya harus menginisiasi program dialog seperti itu di Indonesia. Waduh, sesuatu yang awalnya hanya untuk kesenangan pribadi, menjadi tanggung jawab saya. Pendek cerita, untuk 4 tahun berikutnya forum kecil yang saya bentuk, Bandung Society for Cosmology and Religion, mendapatkan dana dari Metanexus Institute untuk beraktivitas dalam diskusi, kuliah-kuliah umum, seminar dalam topik besar sains, agama, dan budaya. Pesertanya banyak dari kalangan akademia (mahasiswa dan dosen dari berbagai jurusan dan perguruan tinggi), beberapa Ibu rumah tangga, guru-guru, dokter-dokter, ekonom, pemikir agama, sosiolog, filsuf, teknolog, dll. Hingga kini, walau sudah tak didanai lagi, semangat forum masih tinggi, dan kami masih bertemu untuk belajar bersama. Saya senang anggota forum ini berpikiran terbuka dan rendah hati untuk saling mengenal dan belajar, dan bersama-sama membangun jembatan untuk mengatasi kesenjangan yang terasa pada masyarakat kita antara ilmu pengetahuan, tradisi, dan agama, dan untuk saling menghormati satu sama lain. Saya optimis bahwa dengan orang-orang seperti ini, negara kita yang heterogenitasnya top ini, dengan perkenan Tuhan, akan selalu bersatu in harmonia progressio.

Keberuntungan yang kedua berhubungan dengan kesenangan kami berbagi cerita (dan gambar!) yang indah tentang alam semesta dan segala macam objek astronomis. Dari pengalaman-pengalaman terdahulu mengunjungi beberapa SD di pelosok Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, saya dibuat sangat prihatin dengan kondisi belajar-mengajar di kebanyakan sekolah di Indonesia ini. Beberapa guru masih berkorespondensi dengan saya melalui surat menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan sains dan/atau kesempatan untuk belajar lebih luas, dll. Dengan memperhatikan minat yang tinggi pada sains alam, khususnya astronomi, pada anak-anak yang berkunjung ke Observatorium Bosscha Lembang dan Planetarium Jakarta, saya melihat peluang untuk memperkenalkan sains alam lewat astronomi. Namun saya terbentur pada tantangan bagaimana mengantarkan paket pengajaran ini ke anak-anak di pelosok. Hanya sebagian kecil dari anak Indonesia yang berkesempatan berkunjung ke Observatorium Bosscha atau ke Planetarium Jakarta, atau ke fasilitas pendidikan umum seperti museum, dll. Yang menjadi perkara juga adalah sudah begitu padatnya bahan ajar (kurikulum) untuk anak-anak, sehingga saya harus memikirkan metode pembelajaran dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler, sehingga tidak menjadikan beban tambahan untuk para guru. Sambil lewat saya ceritakan mimpi saya ini pada seorang teman profesor astronomi di Belanda. Sekitar 6 bulan kemudian, saya diundang ke Jerman untuk pertemuan perdana untuk membentuk grup pemikir perintis yang bertugas merancang program dan bahan ajar astronomi untuk anak-anak yang kurang beruntung di dunia ini. Wah lagi! Tahun 2005 terbentuklah program internasional bernama Universe Awareness for Children (UNAWE), dan sejak tahun 2007 secara formal Universe Awareness Indonesia saya perkenalkan melalui kegiatan dan bahan ajar yang terstruktur.  Kini sudah beberapa negara di dunia menjalankan program UNAWE ini. Kami berbagi bahan dan pengalaman, dan masing-masing memiliki kebebasan untuk merancang program dan bahan, dan juga mandiri dalam pelaksanaannya. Oleh karena itu saya sangat berterimakasih (dan lagi-lagi beruntung) mendapatkan bantuan dari rekan-rekan alumni ITB’83 dan dari Hotasi Nababan. Teman-teman dan team Universe Awareness Indonesia yang sangat berdedikasi tinggi (mereka mahasiswa dan alumni yang kompeten dan sukarela membantu) selama ini telah memungkinkan kunjungan ke anak-anak di pelosok-pelosok dari Anyer hingga lokasi pengungsian korban lumpur di Sidoarjo, juga di  Pontianak, dan berpartisipasi dalam acara-acara untuk anak-anak di Bandung, Bogor, dan Jakarta. Dalam acara kunjungan UNAWE pada umumnya kami mengajarkan sains alam lewat pengenalan objek dan fenomena langit dengan cara bermain, mendongeng (termasuk panggung sandiwara), melihat objek langit menggunakan teleskop, menonton pergerakan benda langit pada portable planetarium, dan juga memberikan pembekalan pada guru, atau orangtua, yang biasanya mendampingi anak-anak pada acara tersebut. Yang mengesankan adalah pada kesempatan belajar seperti ini, anak-anak kembali menunjukkan “aslinya”, yakni rasa ingin tahu yang alami, yang anehnya tertekan justru ketika mereka di sekolah. Mereka dengan bebas berkomentar, dan menanyakan hal-hal yang mereka sungguh ingin tahu. Pernah seorang murid kelas 2 SD menghampiri saya selagi membereskan laptop seusai bercerita, ketika teman-temannya sudah beralih ke teropong, bertanya: ”Kalau bintang itu ciptaaan Tuhan, siapa yang menciptakan galaksi-galaksi? Tadi Ibu bilang tiap galaksi bisa berisi ratusan milyard bintang. Banyak sekali ya? Apa Tuhan gak repot?” Wajahnya kelihatan betul bingung dan cemas. Atau, ada juga yang prihatin dengan situasi planet Pluto, dan bertanya: ”Benda apa yang menggantikan kedudukan Pluto sekarang?” Ada juga yang ”hanya” menunjukkan kekaguman ketika mengamati Saturnus lewat teleskop:”Eh, bagus ya cincin Saturnus. Itu tiap hari begitu, kak?” Entah hanya hari itu atau juga pada hari-hari berikutnya setelah pertemuan kami dengan mereka, ada hal baru dan lain daripada yang lain, yang menari-nari dalam pikiran mereka. Mereka menjadi aware. Tak begitu penting saat ini apakah mereka paham sainsnya; itu bisa diusahakan dalam langkah-langkah lain dalam kesempatan selanjutnya. Saya juga amati bahwa untuk anak-anak di kota besar, melihat gambar-gambar alam yang indah dan luas nampaknya membebaskan mereka dari himpitan ruang-waktu yang sehari-harinya membuat mereka selalu dikejar waktu, selalu harus berbagi tempat yang sudah sempit, dan hidup penuh ketidakpastian. Dengan melihat langit malam yang luas, dengan memperhatikan betapa teraturnya Matahari dan Bulan terbit dan tenggelam, mereka dapat mengandalkan alam untuk orientasi dan ketenangan batin.

Untuk kami yang mendapatkan kesempatan indah untuk bermain dengan anak-anak ini, reward-nya adalah kebahagiaan yang tak terukur. Saya juga melihat pada rekan-rekan team UNAWE yang muda, kesempatan ini memberdayakan kompetensi mereka dan menghaluskan persepsi mereka akan lingkungan. Ada begitu banyak yang dapat kita kerjakan untuk sesama kita.

Akhir kata, saya ingin berbagi dengan teman-teman semua keyakinan saya bahwa “goodness prevails”.

Tulisan ini adalah salah satu dari rekoleksi teman-teman “Ladies Power” Alumni ITB’83 yang diterbitkan dalam buku PASTA (2012). Saya berterimakasih pada produser buku PASTA ini (Kiko Rusdi dkk) dan Ganesha 83 Foundation untuk memperkenankan tulisan saya ini muncul di blog ini.

panstarrs_cook_1100
Komet PANSTARSS. Cook. http://apod.nasa.gov/apod/ap130318.html

Saya hanya ingin berbagi kekaguman saya. After all, the universe is too vast and too beautiful to keep it to oneself… Dan tentang berbagi dengan generasi muda, saya ingat warning dari American Natives: “You don’t inherit the wonderful Nature from your ancestors, you borrow it from your great grandchildren”.

Advertisements

2 Responses to Nana in Pasta

  1. arum novita says:

    kosmolog dan dibayar? apakah mbak seorang peneliti, dimana mbak bekerja?
    Saya juga sangat menggemari astronomi dan agama : )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s