GURU

Tadi pagi seorang Tante saya, adik Ibu, wafat. Pergi sudah jiwa seorang guru. Guru tulen, guru klasik. Guru sungguh. Hingga pensiun, beliau memilih tetap menjadi guru SD kelas satu. Baginya, guru bukan karier, tetapi pengabdian, keharusan. Harus ada yang menjadi guru. Dan guru kelas satu SD, bukan di kota besar, menerima murid-murid yang baru pertama kali melibatkan diri dengan dunia luar, secara regular. Anak-anak baru pertama kali memperhatikan huruf-huruf yang ternyata secara ajaib bisa dirangkai menjadi kata yang mereka biasa ucapkan. Setiap hari semakin banyak, semakin macam-macam yang bisa ditulis dan dibaca. Dan angka…, alangkah menakjubkannya menghitung dengan jari cocok dengan menuliskannya dengan angka-angka. Luar biasa, anak-anak merasa mereka boleh diandalkan untuk pergi ke warung, belanja, dan menghitung uang kembalian dengan benar. Mereka sibuk menerima pesan dunia yang tertulis di koran, majalah, nama toko, kotak kue, papan iklan, dan masih banyak lagi. Bahkan nama mereka pun ada tulisannya. Betapa menggairahkan ketika bisa membaca dan berhitung. Dunia terbuka lebar untuk dieksplorasi. Mereka belajar berkomunikasi. Mereka belajar berbahasa.

Guru SD kelas satu menanamkan fondasi rasional. Salah satunya dengan memperkenalkan logika yang hadir karena kesepakatan manusia sepanjang peradaban. Logika individual yang tumbuh karena persepsi naluriah berjumpa dengan logika komunal. Nature and nurture. Anak-anak belajar mengelola diri dalam tatanan masyarakat kecil, kelasnya, sekolahnya, ada guru dan teman-teman. Karena semua itu bukan keluarga, mereka dibuat sadar bahwa mereka tak bisa berperilaku sekehendak hati seperti di rumah. Namun tetap saja semua itu bisa amat menyenangkan. Mereka belajar berpartisipasi membuat kelas gembira, menolong teman, minta tolong teman. Mereka juga belajar kapan harus mempertahankan diri, kapan harus berpihak, dan ada saat-saat dimana hanya bisa menangis.  

Guru SD kelas satu menyaksikan perkembangan kognitif manusia pada usianya yang paling tender. Saya tak henti-hentinya kagum bagaimana Tante saya, dan para guru untuk anak usia dini, bisa menanamkan hal paling fundamental pada anak manusia.

Beliau tak berhenti pada mengajar membaca, menulis, berbahasa, berhitung, menyanyi. Beliau ingin murid-muridnya melihat alam sekitar. Suatu hari beliau bertanya pada saya bagaimana menjelaskan perubahan fase bulan pada anak-anak. Lalu saya bertanya balik, dengan polos, “Lho, murid kelas satu SD sudah diajari fase bulan?”. Jawab beliau: ”Ya belum, tapi kan mereka tiap hari lihat bulan. Anak-anak senang jika apa yang mereka lihat ada ceritanya. Itu mendorong mereka untuk berpikir, berkhayal, dan anak-anak punya banyak yang mereka ingin ceritakan”. Saya jadi ingin mendengar cerita dari anak-anak.

Keinginan beliau untuk menjadikan belajar sebagai pengalaman yang menyenangkan menjadi bekal terpenting untuk saya. Beliau, Ibu beliau (nenek saya), dan saya, adalah tiga generasi pengajar, dengan amanah kami masing-masing: mereka guru SD di awal hingga menjelang akhir abad 20, saya di perguruan tinggi di peralihan millennium. Kami senantiasa bergegas mengikuti derap generasi dibawa arus perubahan peradaban, karena ingin memastikan kami persiapkan anak-anak kita dengan baik.

Betapa saya bersyukur ada guru yang menjadi teladan bagi saya dalam menjadi guru, dengan contoh, dengan pertanyaan, dengan kegelisahan, dengan kesukacitaan.

Terimakasih, Tante. Saya ikut ribuan muridmu yang mendoakan istirahat dalam damai sempurna dan kemuliaan dalam pangkuan Sang Maha Pengasih.

Picture credit: apod.nasa.gov: 26 September 2020

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s