Even the Heaven shows goose bumps

goosebumps

 

Hidup dan mati adalah dua ajektif yang berlawanan, tapi saling memberi makna, dan dalam konteks tertentu keduanya saling menarik-ulur garis batas. Kehidupan meniscayakan kematian, tapi bagaimana dengan sebaliknya? Paling tidak kekosongan karena kematian mengingatkan pemenuhan hakekat hidup pada kehidupan. Semestinya.

Semua pernyataan di atas trivial. Dekat atau jauh, siap atau tidak, kematian ada di depan. Kelahiran dan kematian, dua kejadian alami yang menjadi ujung-ujung eksistensi tiap manusia, artinya lumrah, tapi tetap saja merupakan kejadian paling dramatis.

Manusia menggunakan inderanya untuk mempersepsi lingkungan fisiknya, dan menggunakan akalbudinya untuk me-manoeuver hidupnya. Dengan inderanya inilah dihidupkan dan dibangun hubungan antar manusia, dan antara manusia dengan makhluk sesama penghuni Bumi. Ketika kematian memutus hubungan inderawi ini, luka dalam bentuk kesedihan dan kepedihan bukanlah yang mudah terobati. Bahkan surga pun bereaksi, turun tangan, karena paham beratnya transisi dari hubungan inderawi ke hubungan yang melulu dalam ranah jiwa, menjadikan raga luluh lantak. Dan raga yang luluh tak dijamin sanggup merumahi jiwa yang bingung. Kepedihan yang tak terperikan tak jarang merontokkan pilar jiwa yang kokoh sekalipun.

Kematian sama normalnya dengan kehidupan. Namun untuk orang-orang yang mengidap penyakit fatal, atau yang sudah berusia amat lanjut, kematian menjadi “lebih” normal, bahkan diantisipasi, sehingga respons terhadap kedatangannya kerap ambivalen. Kedukaan dan kepedihan akibat perpisahan ini lalu dianggap berlebihan. Ini tak berbeda dari ketika orang hampir tidak lagi berempati mendengar berita ratusan orang meninggal dalam satu hari karena bomb di negara-negara yang sedang dalam situasi peperangan, ratusan anak hilang diculik, atau ketika mendengar ribuan orang meninggal dalam waktu singkat akibat penyakit ebola, dan masih banyak lagi…

Sungguh memprihatinkan dan menyedihkan menyaksikan kematian empati manusia.

Why have we become so indifferent to human tragedy, when Heaven itself shows compassion?

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s