Yang utama

Tadi, untuk kedua kalinya saya menyaksikan satu bagian dari seri BBC Knowledge berjudul The Indian Ocean, dimana Simon Reeve pergi bersama sejumlah pemuda Somaliland ke pantai Samudra Hindia. Sebagian besar dari para pemuda itu belum pernah sama sekali ke pantai. Yang lagi-lagi membuat saya amat terharu adalah kegirangan dan ketakjuban mereka yang polos ketika tiba di perbatasan daratan dan lautan terbuka; ketika ombak mendatangi kaki-kaki mereka, dan ketika ombak berbalik arah menuju ke laut dan pasir di bawah kaki mereka merosot… Dan Simon Reeve, yang selalu rendah hati, mengatakan bahwa dia merasa amat terhormat mendapatkan kesempatan menemani mereka pada momen kegembiraan yang paling murni seperti itu. Saya mendoakan kesenangan murni seperti ini tidak akan pernah hilang dari jiwa mereka. Saya doakan semua orang akan selalu menemukan sesuatu yang membuatnya senang dan takjub seperti itu. Orang-orang ini akan selamanya merasakan kebahagiaan murni, karena mereka cukup rendah hati untuk dibahagiakan oleh hal kecil, sederhana, alami, dan kebaikan yang tulus.

…apa yang diutamakan manusia, dan apa yang menjadikan manusia utama…

Saya merenungkan lagi sepotong kalimat di dalam tulisan kecil saya di Buku PASTA.

Yang menjadikan manusia utama adalah anugrah akal budi, daya pikir dan nurani, conscience, yang membuatnya dapat menatap sesamanya dan keindahan alam dengan penuh ketakjuban dan rasa syukur, yang membuatnya sadar akan adanya kekuasaan di atas kuasanya, yang sepanjang peradaban ia cari dan berusaha kenali.

Namun yang kini diutamakan manusia bukanlah yang membuatnya utama. Orang tak lagi mengisi hidupnya dengan mengasah dan mengasuh akal budi dan nuraninya, tetapi justru berlomba-lomba dalam penampilan dan kekayaan duniawi. Manusia merasa berhasil ketika ia berhasil mengungguli sesamanya, bukannya menjadi tergugah untuk membantu mengangkat sesamanya.  Semakin banyak orang yang menghabiskan waktu mematut-matut di depan cermin, tanpa sedikitpun merefleksi jauh ke dalam kalbu; orang semakin mengupayakan sebanyak mungkin kesempatan untuk menonjolkan dan mengabadikan citra diri dalam lingkaran sosial terpilih, bukan demi pengabadian citra mulia ilahi pada dirinya, apalagi untuk merendahkan hati.

Terjemahan bebas untuk kata-kata Ben Hecht: “Orang yang merasa dirinya lebih dan memamerkannya, tidak berbeda dari pengemis yang membeberkan kemiskinannya: keduanya meminta sedekah. Orang yang berlebih meminta sedekah iri dan kagum, yang miskin meminta sedekah belas kasihan”.

Vanity sudah semakin menggejala di dunia, di segala umur, di segala kelompok manusia, dan sudah menguasai hidup banyak orang.  Vanity sudah begitu berhasil memalsukan kebahagiaan, begitu banyak orang terkelabui.

Saya tidak tahu lagi bagaimana agar manusia tetap utama, ketika yang diutamakan bukan lagi yang membuatnya utama.

Painting by Miriam Hull 2010
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Yang utama

  1. susi says:

    Yang terkasih, penulis. Belajar dari ilmu padi mengingatkan saya akan tulisan anda… semakin berisi semakin menunduk, dan pada saatnya memberikan isi yg terbaik untuk dinikmati(tetapi tdk bs mengenyangkan kalau hanya satu butir)…

    Kadang saya berpikir sendu… apa yg bisa saya turunkan …

  2. alsnstars says:

    Terimakasih banyak, Susi yang baik. Saya hanya pikir selama masih diberi kehidupan saya masih diberi kesempatan untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan memberikan yang terbaik.
    Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s