Perceiving Time

https://www.ted.com/talks/katie_paterson_the_mind_bending_art_of_deep_time

The six and a half minutes you invest in watching this film returns beautifully in

…you identifying your place in Time, and joyfully orienting yourself from there,

……acknowledging your predecessors, befriending your contemporaries,

………predicting your prints on the Future.

Not only shall we know more, we shall feel more, love more, respect more.

We shall be made gentler, humbler, and perhaps wiser, but certainly more grateful.

Posted in Uncategorized | 2 Comments

James Webb Space Telescope

Itu adalah nama wahana antariksa astronomi inframerah baru yang diamanahi untuk memeriksa alam semesta muda, beberapa juta tahun pertama dari umurnya sekarang yang 13,7 milyar tahun. Saat itu alam semesta belum lama menjadi netral secara elektromagnetik, dan gravitasi baru saja bisa bekerja secara efektif mengaglomerasi materi, sehingga bintang-bintang pertama lahir, dan cikal bakal galaksi-galaksi perlahan mewujud.

JWST bukan teleskop ruang angkasa pertama. Salah satu pendahulunya yang terkenal adalah Hubble Space Telescope yang membuka pandangan umat manusia, bukan hanya para ilmuwan, pada alam semesta yang indah, luas, kompleks, menakjubkan. Sementara data rincinya menjadi tulang punggung ribuan karya ilmiah, foto-foto nebula, galaksi, planet jauh, dan lain sebagainya, menghiasi majalah untuk umum. Semenjak itu, astronomi menjadi cabang sains yang amat populer.

Jendela pengamatan utama Hubble Space Telescope mencakup panjang-gelombang cahaya tampak (optik) dengan sedikit tambahan pada inframerah dan ultraviolet. Perolehan citra yang tajam dalam gradasi warna yang halus membuka wawasan tentang proses fisis detail pada sumber cahayanya. Di antara banyak objek redup yang berhasil dideteksi ternyata merupakan galaksi-galaksi yang amat jauh dan muda.

Pemuaian alam semesta secara global menjauhkan satu galaksi dari yang lain. Ini mengakibatkan panjang-gelombang cahaya dari galaksi-galaksi jauh bergeser ke arah panjang-gelombang yang lebih panjang, menjadikan sebagian besar galaksi akan tampak lebih terang jika diamati pada panjang-gelombang panjang seperti inframerah. Selain itu, bintang-bintang amat sering terlahir dalam selimut debu yang membuatnya sulit diamati karena debu menyerap cahaya tampak. Namun debu meloloskan cahaya inframerah. Itulah alasan utama penyiapan teleskop inframerah. Dan, karena uap air di atmosfer Bumi juga tidak meloloskan cahaya inframerah, teleskop inframerah perlu dikirimkan ke luar atmosfer Bumi. Salah satu teleskop inframerah yang sukses sebelum ini adalah Herschel, yang bertugas mengamati galaksi-galaksi yang sedang memproduksi bintang dalam jumlah besar yang amat cemerlang pada rentang panjang-gelombang inframerah jauh (60-500 micron).

JWST diamanahi untuk mengamati bintang-bintang generasi awal yang dapat dideteksi pada rentang 0,6-28,6 micron. Karena alam semesta telah memuai belasan milyar tahun semenjak bintang-bintang ini lahir, jarak ke mereka telah teramat jauh, sehingga cahayanya teramat redup. Untuk dapat efektif mengumpulkan cahaya yang datang sedikit demi sedikit ini, diperlukan cermin pengumpul cahaya yang luas. Diameter Herschel yang hanya 3,5 meter membatasi deteksi hingga sumber cahaya yang relatif dekat, sedangkan JWST yang berdiameter 6,5 meter dapat mendeteksi cahaya yang jauh lebih redup, termasuk sumber-sumber cahaya yang jauh di masa lampau.

Objektif Saintifik

Karakter bintang-bintang generasi pertama sangat boleh jadi berbeda dari bintang-bintang masa kini seperti Matahari. Bintang-bintang awal terbentuk saat hidrogen, materi dasar pembentuk bintang, tersebar dengan kerapatan tinggi karena volume alam semesta masih kecil. Akibatnya, ilmuwan menduga bintang-bintang awal dapat bermassa sangat jauh lebih besar daripada bintang generasi sekarang. Kecerlangannya bisa mencapai jutaan kali kecerlangan Matahari dan bersuhu amat tinggi, sehingga dapat mengionisasi gas di sekitarnya. Karena alam semesta masih berukuran kecil, dan pembentukan bintang ini menggejala secara global, maka ionisasi juga menjadi gejala global. Walau hanya sebentar, gas hidrogen yang terionisasi ini sempat menghambat pembentukan bintang selanjutnya. Baru sekitar semilyar tahun kemudian pemuaian alam semesta yang kontinu membuatnya cukup dingin untuk gas hidrogen menetral kembali dan pembentukan bintang selanjutnya dapat dimulai. Hanya sekali dalam sejarah alam semesta proses reionisasi global terjadi akibat sebaran bintang-bintang panas maharaksasa, dan dampaknya pada evolusi alam semesta selanjutnya sangat krusial. Objektif sains utama misi JWST adalah memahami detail proses kompleks namun global ini. Pada epokh selanjutnya dalam evolusi alam semesta, kompleksitas tinggi hanya terjadi pada skala-skala kecil atau lokal saja, seperti di sekitar bintang atau di dalam individu galaksi.

Kehadiran bintang generasi pertama ini mengubah fitur alam semesta secara signfikan. Alam semesta menjadi bercahaya dengan bintang-bintang sebagai sumber-sumber cahaya titik yang mendominasi terangnya langit. Galaksi-galaksi, sebagai himpunan bintang-bintang, mulai terbentuk, dan berlanjutlah interaksi antar sesama bintang, antara bintang dan gas, yang semakin kompleks dan menghasilkan fitur alam semesta semakin kaya. Bintang-bintang generasi awal yang bermassa amat besar itu berumur pendek, hanya jutaan tahun. Mereka mengakhiri masa hidupnya sebagai bintang dengan meledak (supernova) dan menyebarkan hasil reaksi fusinya ke segala penjuru. Ruang antar bintang yang awalnya hanya berisi atom hidrogen dan sedikit helium lalu diperkaya dengan unsur-unsur kimia yang semakin beranekaragam.

Sains terobosan yang akan ditawarkan oleh JWST akan menyanggupkan kita bertanya lebih lanjut, lebih tajam, tentang, antara lain, proses detail evolusi galaksi yang merupakan building blocks struktur skala besar alam semesta; proses pembentukan lubang hitam supermasif yang nyatanya lazim ada di pusat galaksi-galaksi besar termasuk Galaksi Bima Sakti; proses pembentukan dan pengenalan karakter bintang-bintang generasi selanjutnya, seperti Matahari, sekaligus sistem keplanetan yang merupakan produk samping pembentukan bintang; fitur fisis detail berbagai eksoplanet untuk kita secara reflektif memahami sejarah planet-planet di Tata Surya, terutama Bumi; dan identitas fisis serta peran konstituen alam semesta yang hingga kini masih amat belum dipahami: materi gelap dan energi gelap.

Tantangan teknologi astronomi

Ada banyak tantangan teknologi astronomi untuk memenuhi itu objektif sains tersebut. Cermin primer berdiameter 6,5 meter yang disebutkan di atas tersusun atas 18 keping cermin yang masing-masingnya dapat diorientasikan untuk menghasilkan tingkat akurasi fokus beberapa puluh nanometer untuk menghindari deformasi termal yang bisa berdampak pada kualitas citra. Kombinasi kehalusan maneuver dan reflektivitas semua cermin dioptimalkan dengan memilih material cermin berupa berilium yang dilapisi emas. Foton-foton yang tiba pada cermin primer dipantulkan ke arah cermin sekunder yang kemudian meneruskannya ke berbagai instrumen berupa kamera detektor dan beberapa spektrograf. Detektor nantinya menginformasikan intensitas cahaya sumber, sementara spektrograf mengurai cahaya untuk mengenali detail fisis sumber cahaya seperti kandungan dan kelimpahan kimia, serta perilaku gerak sumber cahaya. Agar dapat bekerja efektif detektor inframerah perlu didinginkan hingga -266 C. Ini dapat dicapai dengan memastikan JWST selalu terlindung dari sinar Matahari dan sumber panas lain dengan memasang tameng layar tipis seluas lapangan tenis.

Tantangan teknologi ruang angkasa

JWST akan diposisikan di titik Lagrange ke-2 (L2) dalam sistem gravitasional Bumi-Matahari yang akan membuat posisinya stabil dengan energi minimal. Perkaranya titik itu berjarak sekitar 1,5 juta km dari Bumi, sekitar 4 kali jarak Bumi-Bulan. Restriksi mayor menjadi jelas: jarak yang begitu jauh tidak akan memungkinkan perbaikan wahana oleh astronot seperti yang telah sukses dilakukan pada Hubble Space Telescope. Semua pergerakan maneuver wahana maupun detail internal lainnya yang melibatkan pengoperasian ratusan elemen mekanik harus terlaksana dengan sempurna. Tidak ada kesalahan yang terlalu kecil. Ini yang membuat JWST wahana antariksa paling canggih dan rumit. Herschel juga diletakkan pada L2, tetapi dimensi dan design-nya yang kompak membuat packaging dan unpackaging muatan lebih sederhana. Ini memberikan pelajaran penting dalam menyiapkan JWST.

JWST dengan bobot 7 ton akan diantar oleh Roket Ariane 5 milik European Space Agency ke jarak sekitar 1 juta km dari Bumi dalam keadaan rapi terlipat seperti origami di dalam ruang sempit di bagian atas roket. Kapsul JWST akan terlepas dari Roket Ariane 5 delapan menit setelah diluncurkan dari Kourou, pusat peluncuran roket di Guiana Perancis. Pada menit ke-31, sayap-sayap sel surya dikembangkan untuk mengisi tenaga ke batere yang akan menghidupkan berbagai peralatan, termasuk peralatan komunikasi ke Bumi. Setelah 12 jam, roket pendorong kecil menyala dan JWST dapat meneruskan perjalanan hingga tiba di lokasi targetnya. Pekerjaan-pekerjaan berikutnya semakin rumit dan beresiko fatal pada seluruh misi. Menjelang hari ketiga layar-layar pelindung dibuka. Pada hari keenam, cermin kedua yang amat krusial perannya dalam sistem teleskop akan mulai bergerak untuk siap pada posisinya pada hari ke-10. Susunan cermin primer akan mulai digerakkan pada hari ketujuh dan akan sepenuhnya mekar dua pekan sejak keberangkatan.  Ini semua dilaksanakan sambil JWST terus bergerak menuju titik L2 yang akan dicapai sekitar sebulan setelah peluncuran. Dalam bulan-bulan berikutnya akan dilaksanakan alignment sistem cermin, kalibrasi instrument-instrumen, dan berbagai pengujian. Jika semua berjalan baik, barulah menjelang akhir Juni 2022 JWST akan siap beroperasi menjalankan amanahnya. JWST akan senantiasa berada pada sisi malam Bumi dengan orientasinya memunggungi Bumi, yang akan membuatnya sebuah teknologi terintegrasi yang belum ada tandingannya dalam menjadi kepanjangan indera manusia untuk mengeksplorasi semesta.

Pelajaran dari mengejawantahkan mimpi besar menjadi proyek raksasa dan rumit

Jelas untuk proyek saintifik ambisius ini, yang mendorong teknologi state of the art untuk memenuhinya, sungguh esensial kemampuan memprediksi, merancang, membuat, mengelola berbagai jenis dan tingkat kerjasama. NASA bekerjasama utamanya dengan European Space Agency dan Canadian Space Agency. Proyek ini berisi banyak bagian, mulai dari penjernihan objektif saintifik, studi area dan jenis-jenis objek yang akan diamati, pendetailan rancangan teleskop dan instrumen pelengkap seperti detektor dan spektrograf, infrastruktur seperti layar pelindung, sel surya dan batere, pipeline data ke Bumi, dan lain-lain. Masing-masing instrumen disiapkan oleh institusi dan manufaktur terpisah, yang semuanya adalah yang terdepan dalam teknologi relevan. Yang disebutkan di atas adalah baru produk keperluan saintifik saja. Pekerjaan besar lain adalah merancang agar ini semua dapat diterbangkan ke tujuan dan beroperasi tanpa kehadiran manusia sama sekali. Rencananya JWST akan diluncurkan menjelang akhir Desember 2021, yang artinya sekitar 32 tahun setelah proyek JWST ditetapkan untuk dilaksanakan. Diakui penyebab utama tertundanya perampungan JWST ini adalah kekurangsiapan manajemen, kurang rapinya koordinasi antar divisi, estimasi terlalu rendah atas tingkat kesulitan design dan realisasi design, yang berakibat pada estimasi terlalu rendah pada anggaran kerja dan belanja. Ini menjadi contoh pengalaman bekerjasama untuk dipelajari oleh proyek-proyek besar berikutnya. Astronomi adalah cabang sains yang amat mengandalkan kerjasama internasional, selain karena karakter universal objek dan cakupan studinya, juga karena semakin beratnya tantangan teknologi dan finansial untuk menjalankan proyek observasi yang bermakna.

Selain untuk memajukan sains tentang fisika alam semesta, apalagi yang dapat dimanfaatkan dari proyek senilai 10 milyar USD ini? Hampir semua misi astronomi berteknologi tinggi menghasilkan spin-off yang pemanfaatannya segera pada berbagai kebutuhan keseharian manusia. Antara lain, teknologi kesehatan, keamanan, transportasi, komunikasi, dan tentu saja pengembangan material. JWST belum diluncurkan, tetapi teknologi optiknya telah dapat dimanfaatkan dalam kedokteran mata. Pengembangan material untuk JWST telah menghasilkan konstruksi yang super stabil, tidak bergerak bahkan dalam rentang sepersepuluhribu lebar sehelai rambut. Dalam waktu dekat permintaan akurasi dalam kehidupan modern yang semakin tinggi, seperti untuk penentuan waktu dan posisi, akan memanfaatkan material semacam ini. Indah, ketika pemikiran dan teknologi yang mengizinkan kita memahami sejarah Semesta, secara holistik menghaluskan akalbudi dan menawarkan solusi atas masalah kita di Bumi.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Once Upon A Tree

A tree listens and tells its own story.

And is therefore a trusted friend.

So, as they say these days: Take a listen.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Windows

We need light, just enough, to see, to be seen, to be connected. We need air, to be alive, to be part of a wider dynamics. A window does all those for us, without us having to step outside, to our own choice, to stay within our comfort zone, or due to some reasoning imposed on us.

Ancient windows, yesterday’s flowers, witnessing the stories of all hours

Posted in Uncategorized | 2 Comments

GURU

Tadi pagi seorang Tante saya, adik Ibu, wafat. Pergi sudah jiwa seorang guru. Guru tulen, guru klasik. Guru sungguh. Hingga pensiun, beliau memilih tetap menjadi guru SD kelas satu. Baginya, guru bukan karier, tetapi pengabdian, keharusan. Harus ada yang menjadi guru. Dan guru kelas satu SD, bukan di kota besar, menerima murid-murid yang baru pertama kali melibatkan diri dengan dunia luar, secara regular. Anak-anak baru pertama kali memperhatikan huruf-huruf yang ternyata secara ajaib bisa dirangkai menjadi kata yang mereka biasa ucapkan. Setiap hari semakin banyak, semakin macam-macam yang bisa ditulis dan dibaca. Dan angka…, alangkah menakjubkannya menghitung dengan jari cocok dengan menuliskannya dengan angka-angka. Luar biasa, anak-anak merasa mereka boleh diandalkan untuk pergi ke warung, belanja, dan menghitung uang kembalian dengan benar. Mereka sibuk menerima pesan dunia yang tertulis di koran, majalah, nama toko, kotak kue, papan iklan, dan masih banyak lagi. Bahkan nama mereka pun ada tulisannya. Betapa menggairahkan ketika bisa membaca dan berhitung. Dunia terbuka lebar untuk dieksplorasi. Mereka belajar berkomunikasi. Mereka belajar berbahasa.

Guru SD kelas satu menanamkan fondasi rasional. Salah satunya dengan memperkenalkan logika yang hadir karena kesepakatan manusia sepanjang peradaban. Logika individual yang tumbuh karena persepsi naluriah berjumpa dengan logika komunal. Nature and nurture. Anak-anak belajar mengelola diri dalam tatanan masyarakat kecil, kelasnya, sekolahnya, ada guru dan teman-teman. Karena semua itu bukan keluarga, mereka dibuat sadar bahwa mereka tak bisa berperilaku sekehendak hati seperti di rumah. Namun tetap saja semua itu bisa amat menyenangkan. Mereka belajar berpartisipasi membuat kelas gembira, menolong teman, minta tolong teman. Mereka juga belajar kapan harus mempertahankan diri, kapan harus berpihak, dan ada saat-saat dimana hanya bisa menangis.  

Guru SD kelas satu menyaksikan perkembangan kognitif manusia pada usianya yang paling tender. Saya tak henti-hentinya kagum bagaimana Tante saya, dan para guru untuk anak usia dini, bisa menanamkan hal paling fundamental pada anak manusia.

Beliau tak berhenti pada mengajar membaca, menulis, berbahasa, berhitung, menyanyi. Beliau ingin murid-muridnya melihat alam sekitar. Suatu hari beliau bertanya pada saya bagaimana menjelaskan perubahan fase bulan pada anak-anak. Lalu saya bertanya balik, dengan polos, “Lho, murid kelas satu SD sudah diajari fase bulan?”. Jawab beliau: ”Ya belum, tapi kan mereka tiap hari lihat bulan. Anak-anak senang jika apa yang mereka lihat ada ceritanya. Itu mendorong mereka untuk berpikir, berkhayal, dan anak-anak punya banyak yang mereka ingin ceritakan”. Saya jadi ingin mendengar cerita dari anak-anak.

Keinginan beliau untuk menjadikan belajar sebagai pengalaman yang menyenangkan menjadi bekal terpenting untuk saya. Beliau, Ibu beliau (nenek saya), dan saya, adalah tiga generasi pengajar, dengan amanah kami masing-masing: mereka guru SD di awal hingga menjelang akhir abad 20, saya di perguruan tinggi di peralihan millennium. Kami senantiasa bergegas mengikuti derap generasi dibawa arus perubahan peradaban, karena ingin memastikan kami persiapkan anak-anak kita dengan baik.

Betapa saya bersyukur ada guru yang menjadi teladan bagi saya dalam menjadi guru, dengan contoh, dengan pertanyaan, dengan kegelisahan, dengan kesukacitaan.

Terimakasih, Tante. Saya ikut ribuan muridmu yang mendoakan istirahat dalam damai sempurna dan kemuliaan dalam pangkuan Sang Maha Pengasih.

Picture credit: apod.nasa.gov: 26 September 2020

Posted in Uncategorized | Leave a comment

To Live

For the meditative walks in our beloved majestic Yosemite,

For living Jack London’s credo, so we know it is doable,

For the infinite and unconditional love,

Thank you, Ibu Charlotte.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Alam Semesta, Manusia, dan Yang Maha Mulia *)

Sebuah Undangan Untuk Kontemplasi

 

Selalu ada rasa terpesona ketika kita memandang langit malam yang bertabur bintang dan rasa ini telah membangkitkan berbagai inspirasi yang artistik maupun spiritual sepanjang peradaban manusia. Namun ketika kita paksa pandangan kita untuk menerobos lebih dalam dan mengikuti bentangannya, alam semesta kita menampakkan dirinya sebagai sosok yang maha luas, dingin, gelap, dan terlalu jauh untuk punya hubungan apapun dengan kita. Nyatanya memang untuk menjelajahinya bukan hanya memerlukan usaha (sains, teknologi, dana, dll) yang luar biasa besar, tetapi juga kerap meminta nyawa sebagai taruhannya, karena kita tak tahu, di luar Bumi di mana lagi manusia dijamin dapat hidup aman. Memperhatikan persepsi ini, sebagian kalangan pemikir berpendapat bahwa alam semesta tidak memiliki arti, bahkan merupakan antitesis dari kehidupan di Bumi, yang menurut mereka hanyalah suatu produk sesaat dari serentetan proses alami yang juga tak memiliki arti dalam alam semesta ini. Proses-proses itu sendiri nampak tak peduli pada nilai produknya; proses-proses itu seolah-olah hanyalah serangkaian urutan kerja yang mekanistik saja.

Sepanjang abad ke-20 diakumulasi banyak hasil pengamatan astronomi yang mengkonfirmasi bahwa alam semesta ini sangat kaya dan memang sangat besar, dan masih terus mengembang. Galaksi-galaksi pengisi alam semesta bergerak menjauh satu dari yang lain mengikuti mengembangnya alam semesta, dengan kecepatan yang semakin besar dengan bertambahnya jarak antar mereka. Artinya, ukuran besar alam semesta ini berasosiasi dengan umurnya. Bahwasanya alam semesta sekarang sangat besar menunjukkan ia sudah sangat tua.

Lalu apa hubungan antara ukuran dan umur alam semesta yang belasan milyar tahun ini dengan eksistensi manusia? Tubuh manusia tersusun atas unsur-unsur kimia seperti hidrogen, karbon, oksigen, nitrogen, besi, dan banyak lagi, dalam keterkaitan yang amat kompleks. Dalam proses nukleosintesa global dan generiknya, alam semesta tidak memproduksi unsur-unsur kimia ini, kecuali beberapa inti atom yang paling ringan seperti hidrogen dan helium. Unsur-unsur kimia yang lebih berat, yang banyak kita perlukan, merupakan produk reaksi termonuklir di dalam bintang-bintang yang prosesnya memakan waktu sekitar 10 milyard tahun, kala hidup yang khas untuk bintang. Sebagian besar bintang yang ada di dalam alam semesta ini menemui ajalnya dengan meledak, dikenal sebagai supernova, pertanda hidupnya sebagai bintang yang berpendar telah berakhir. Ketika supernova terjadi, hasil proses termonuklir di dalam perut bintang terlontar keluar sehingga memperkaya kandungan kimia materi pengisi ruang antar bintang. Menjadi terbayang oleh kita bahwa ada sebagian kecil materi antar bintang seperti ini yang ikut menyumbang isi Tata Surya kita. Debu kosmik dan sejumlah besar meteor yang telah pernah jatuh atau melintas dekat Bumi, telah memperkaya kandungan kimia di Bumi dan atmosfernya, yang seterusnya memungkinkan kelahiran makhluk hidup di Bumi. Singkatnya, kita, manusia, berhubungan dekat dengan bintang, karena setiap inti karbon yang menyusun tubuh kita, pernah, di suatu masa yang jauh lampau, berada dalam perut sebuah bintang. Kita dan bintang yang nun jauh di sana, hanya terpisah oleh waktu, dan oleh berbagai proses astrofisika dan geofisika yang berjalan mengikuti panah waktu.


Volcano Fuego. Photo D. Rizzo; apod.nasa.gov/apod/ap192705.html

Ukuran alam semesta yang amat besar ini memang terasa terlalu besar untuk kehidupan kita di Bumi. Bisa jadi hidup manusia akan tetap nyaman seperti sekarang, walaupun dengan pemandangan langit jauh kurang indah, seandainya ukurannya hanya sebesar galaksi Bima Sakti (Milky Way), yang berdiameter sekitar 100 ribu tahun cahaya. Namun, waktu yang dibutuhkan alam semesta untuk mengembang hingga seukuran Milky Way hanyalah sekitar beberapa bulan. Dalam umur alam semesta yang hanya beberapa bulan ini sama sekali belum sempat terjadi pembentukan bintang, apalagi untuk memulai reaksi termonuklir di dalam bintang. Bintang memerlukan milyaran tahun untuk menjalankan proses ini, artinya alam semesta minimal berumur milyaran tahun, dan selama itu alam semesta terus mengembang dan suhunya menurun. Walhasil, tak heran alam semesta nampak besar, tua, dan dingin. Alam semesta memerlukan belasan milyard tahun semenjak saat lahirnya untuk mempersiapkan dirinya “menerima” kehidupan, kita semua ini, di dalamnya.

Di titik ini kita berhenti sebentar untuk membayangkan sekaligus refleksi: betapa istimewanya kehidupan; begitu luar biasa persiapan alam semesta sebelum dapat membentuk kehidupan dan menyediakan akomodasi yang layak bagi kehidupan.

Milky Way tampak dari Timor. Photo: M. Yusuf.

Temuan ini membongkar lagi ide tentang alam semesta yang tak memiliki arti. Lebih dari itu, temuan ini justru menghidupkan lagi pertanyaan-pertanyaan mendasar yang sejak dulu ditanyakan manusia: asal-muasal alam semesta dan hubungannya dengan manusia. Alam semesta yang keadaan awalnya, sampai batas tertentu, dapat ditelusuri, dan segala macam proses di dalamnya menunjukkan keteraturan yang terpelihara, mengindikasikan adanya kaidah yang fundamental yang dipatuhi oleh alam semesta. Adanya kaidah ini mengundang ide akan kehadiran sesuatu yang kedudukannya normatif dan menggiring ide kepada sesuatu yang transendental. Pertanyaan tentang Tuhan, dalam hubungannya dengan penciptaaan alam semesta, pertanyaan tentang maksud adanya alam semesta, dan hubungannya dengan kehidupan manusia, bangkit kembali, dan diajukan dengan membuka  koridor pemikiran yang baru. Temuan-temuan saintifik tidak meniadakan pertanyaan tentang Tuhan dan iman religius, tetapi justru menyediakan gagasan-gagasan penajaman dalam substansi mendasar secara investigatif dan universal.

Para astrofisikawan memperhatikan segala sesuatu yang indah yang nampak dalam alam semesta ini, dan mencari pertanda-pertanda di antaranya yang dapat menghantarkan ke pemahaman akan kaidah yang fundamental, hakiki, yang melatarbelakangi itu semua. Sementara pekerjaan harian di muka Bumi memanfaatkan kaidah fisika untuk keperluan dan kemudahan kehidupan manusia di Bumi, astronomi justru ingin menelusuri kaidah itu sampai ke akarnya. Proses pencarian dan pengenalan yang kompleks, yang acapkali membentur manusia pada eksistensinya sendiri, dan memaksa kita untuk menerima batasan realita yang dapat kita akses dan deskripsikan. Walaupun demikian, sungguh mengesankan dan mengagumkan bahwa alam semesta yang besar ini, hingga batas tertentu, dapat dideskripsikan, bahkan dapat diformulasikan dengan logis dan lugas. Tak kalah mengesankannya adalah bahwa manusia memiliki kesadaran serta kemampuan untuk merasa dan menalar. Kenyataan ini menjadi konsiderasi penting dalam pemikiran modern, yakni bahwasanya alam semesta ini, termasuk kita, ada dengan tujuan untuk dimengerti. Sains menawarkan jalan menuju ke pemahaman ini, mendorong terungkapnya dimensi-dimensi yang masih tersembunyi, untuk menalar realita sebatas domain kerjanya. Selebihnya, terserah pada kita, bagaimana kita manfaatkan sains sebagai basis dan kita aktifkan fungsi transendental kita untuk menggapai Yang Maha Mulia yang ilmuNya tak tertampung bahkan dalam alam semesta yang maha luas ini.

———————————————————————————————————-

*) Tulisan ini dipersembahkan untuk masyarakat Indonesia menjelang Idul Fitri melalui terbitan di Harian Kompas 16 September 2009

a repost with updated pics

Hubble Space Telescope Ultra Deep Field
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Human abode under the Sky

Eversince I saw this photograph, taken by my friend Yusuf, a gifted astronomer, I am haunted by the stark juxtaposition of the extremely humble abode and the glorious night sky, obviously indifferent to the human condition.

Yesterday I read the obituary for Barbara Marx Hubbard in the New York Times. Her idea of conscious evolution is still relevant, even more so, today. Particularly when we have the choices, the chance, to mend the course of our future story. So I took the liberty to  paraphrase her words and match it with the picture above.

Forever I trust the goodness in human. Yet we need to, time and again,  remind ourselves how beautiful things are when we are good to one another; to care for our Mother Earth, preventing Her from collapsing due to the burden of carrying us and our caprices.

And perhaps, unbeknownst to us, Heaven smiles down at us. I know our fellow Earthlings will.

https://alsnstars.wordpress.com/work-2/public-service/

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

The Call

Teilhard

Lying flat on the ground, face buried down in Earth, in utter humility_
Photo credit: JEREMYPGRAYPHOTOGRAPHY.COM

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Seminar Medis /MND pertama di Indonesia & Sarasehan Perawatan Pasien ALS

Salam teman-teman yang baik,

Semoga senantiasa dalam keadaan yang terbaik.

Melalui posting ini kami mengundang partisipasi teman-teman dalam acara untuk meningkatkan awareness tentang Amyotrophic Lateral Sclerosis atau Motor Neuron Disease.

Untuk kalangan medis, ini adalah seminar pertama tentang ALS/MND di Indonesia. Silakan mendaftarkan diri melalui kontak yang tertera pada flyer.

Untuk pasien dan keluarga/perawat ALS, silakan hadir pada acara sarasehan. Gratis. Cukup mendaftarkan saja ke n.premadi@yahoo.com , atau dapat juga mendaftar via website Yayasan ALS Indonesia: yayasanalsindonesia.org

link: https://forum.yayasanalsindonesia.org/viewtopic.php?f=2&t=7

Silakan manfaatkan kesempatan belajar tentang penyakit langka ini.

Banyak terimakasih.

salam, nana

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment